SANAMAN MANTIKEI
Dahulu kala di dusun Kaleka Nusa Kuluk Riam
Habambang, sebelah kiri mudik sungai Samba,
hiduplah satu keluarga petani. Petani itu
mempunyai seorang anak laki-laki bernama Tinjau.
Pada suatu hari Tinjau pergi untuk mengantarkan
makanan kepada ibu bapaknya di ladang. Di tengah
jalan, sekonyong-konyong Tinjau melihat seorang
yang mirip ayahnya. Orang itu lalu mengajaknya
berjalan ke suatu arah. Tinjau menurut saja,
karena dirasanya tak salah mengikuti ayahnya
sendiri. Mereka berdua berjalan terus hingga tiba
pada sebuah jalan yang lebar dan bersih.
Akhirnya sampai di sebuah betang (rumah panjang
tradisional suku Dayak). Di dalamnya banyak orang
berkumpul. Mereka lalu naik ke dalam betang itu.
Seorang tetua dari sekalian itu berkata kepada
orang yang mirip ayah Tinjau : “Dari mana kau
dapat anak manusia ini ? Bagaimana kalau
diketahuinya rahasia pekerjaan kita ini tak boleh
dilihat mahluk lain, apalagi manusia.”
“Anak ini kutemukan di ujung jalan rumahku,
sebelum mencapai jalan desa kita ini. Tiba-tiba saja
ia terlihat olehku dan ia pun melihatku pula.
Untunglah sempat kuubah wajahku, menyamar jadi
ayahnya. Mungkin ia mata-mata manusia yang
ditugaskan mengintai pekerjaan kita. Aku bergegas
hingga kubawa saja ia kemari. Terserah ketua
mengambil tindakan padanya,” jawab orang yang
mengajak Tinjau tadi.
Ketua dari orang halus itu berkata lagi : Anak
manusia ini jangan dibiarkan bebas begitu saja.
Nanti ia lari diceritakannya perihal segala
perbuatan kita. Coba tutup ia dengan garantung
(gong) besar.” Tinjau lalu disekap di bawah sebuah
garantung. Ia menyadari bahwa dirinya diculik
mahluk halus. Untung saja papan lantai di bawah
garantung itu tidak rata. Kalau tidak ia bias mati
lemas kehabisan napas. Setelah Tinjau disekap,
mulailah mereka itu berunding mengatur
pembagian kerja pada esok hari yakni membuat
peralatan untuk melebur batu menjadi sanama
mantikei (besi sejati atau murni).
Orang tuanya heran mengapa Tinjau hari ini tidak
dating mengantar makanan seperti biasanya.
Merasa lapar keduanya terpaksa pulang ke rumah.
Ternyata Tinjau tidak ada di sana. Seluruh keluarga
dan orang sekampung turut mencari kesana
kemari. Tetapi semuanya sia-sia saja. Tinjau hilang
bagai ditelan bumi. Bermacam dugaan mereka
lontarkan.
“Apakah kau lihat segala perbuatan kami ?” Tanya
ketua mereka.
Memang Tinjau seorang anak yang cerdik, ia lalu
menyahut : “Ya. Saya lihat semua perbuatan kalian
dengan jelas.”
Ketua mahluk halus itu berkata : “Kalau begitu coba
tutup dia dengan rakung (bakul besar terbuat dari
kulit kayu).” Tinjau lalu ditutup oleh mereka dengan
rakung. “oh,” kata Tinjau, “jangan tutup aku dengan
rakung sebab dapat kulihat apa perbuatan kalian.”
“Kalau begitu coba dengan pangalau (sejenis bubu
penangkap ikan dari rotan dianyam jarang), agar ia
tak melihat pekerjaan kita,” kata ketua hantu itu.
Tinjau berteriak : “Ampun ! Janganlah kalian tuutp
aku dengan pengalau ini. Aku menjadi buta dan tuli
sama sekali.” Mahluk-mahluk halus itu tertawa
terbahak-bahak gembira, sebab Tinjau tak dapat
melihat segala perbuatan mereka. Alat yang mereka
buat itu adalah alat sebagaimana yang masih
dipergunakan pandai besi tradisional hingga kini di
daerah Kalimantan Tengah.
Menurut pendapat mereka untuk mempercepat
peleburan batu menjadi besi itu, sekeliling baknya
dipancangkan tiga buah patung dari tanah liat
dengan bentuk tertentu. Kepala berbentuk ikan,
ekornya halus berbentu kerbau. Kalau kepalanya
bunglon, ekornya harus berbentuk ikan serta bila
kepalanya babi ekornya mesti berbentuk buaya.
Dari percakapan mereka terdapat beberapa
persyaratan dalam pekerjaan itu antara lain tidak
boleh dilihat atau ditegur kaum wanita, beolok-
olok atau berbicara kotor dan bertengkar. Selain itu
hatus dekat dengan air dan ada dahan kayu yang
sedang tingginya. Dua syarat terakhir erat
kaitannya dengan teknis peralatan. Mengenai jenis
batuannya adalah batuan yang ada didalam tanah.
Tiga hari tiga malam lamanya Tinjau memperhatikan
kerja mereka itu mulai dari membuat peralatanya,
melebur batuan menjadi besi serta menempanya
menjadi senjata dan peralatan. Saking sibuknya
mereka bekerja, sampai lupa kepada Tinjau. Hingga
dapatlah ia melepaskan dirinya pulang ke rumah.
Gembiralah keluarganya serta seisi kampung
dengan kepulangan Tinjau. Mereka tercengang
mendengar ceritanya, apalagi menyangkut
pengolahan besi yang pada masa itu belum
diketahui oleh orang.
Beberapa tahun kemudian Tinjau mengajak
keluarganya mengerjakan sanaman mantikei seperti
dilihatnya di kampong mahluk halus dahulu.
Mereka mengerjakannya lebih baik sebab
peralatannya cukup sempurna dengan hasil yang
memuaskan pula.
Bekas pengolahan sanaman mantikei ini terlihat
disebelah kanan mudik sungai Mantikei, sungai
Manten danKaleka Nusa Kuluk Riam Habambang.
Sanaman Mantikei memiliki sifat yang lebih lunak
tapi tajam dan senjata yang dibuat dari bahan ini
mudah dibengkokkan. Batuan yang mengandung
sanaman mantikei hanya dijumpai di sungai
Mantikei, mencarinya dengan jalan digali dari
dalam tanah.
Karena terkenalnya besi ini, hingga sekarang daerah
sepanjang sungai samba dinamakan kecamatan
Sanaman Mantikei.
Dahulu kala di dusun Kaleka Nusa Kuluk Riam
Habambang, sebelah kiri mudik sungai Samba,
hiduplah satu keluarga petani. Petani itu
mempunyai seorang anak laki-laki bernama Tinjau.
Pada suatu hari Tinjau pergi untuk mengantarkan
makanan kepada ibu bapaknya di ladang. Di tengah
jalan, sekonyong-konyong Tinjau melihat seorang
yang mirip ayahnya. Orang itu lalu mengajaknya
berjalan ke suatu arah. Tinjau menurut saja,
karena dirasanya tak salah mengikuti ayahnya
sendiri. Mereka berdua berjalan terus hingga tiba
pada sebuah jalan yang lebar dan bersih.
Akhirnya sampai di sebuah betang (rumah panjang
tradisional suku Dayak). Di dalamnya banyak orang
berkumpul. Mereka lalu naik ke dalam betang itu.
Seorang tetua dari sekalian itu berkata kepada
orang yang mirip ayah Tinjau : “Dari mana kau
dapat anak manusia ini ? Bagaimana kalau
diketahuinya rahasia pekerjaan kita ini tak boleh
dilihat mahluk lain, apalagi manusia.”
“Anak ini kutemukan di ujung jalan rumahku,
sebelum mencapai jalan desa kita ini. Tiba-tiba saja
ia terlihat olehku dan ia pun melihatku pula.
Untunglah sempat kuubah wajahku, menyamar jadi
ayahnya. Mungkin ia mata-mata manusia yang
ditugaskan mengintai pekerjaan kita. Aku bergegas
hingga kubawa saja ia kemari. Terserah ketua
mengambil tindakan padanya,” jawab orang yang
mengajak Tinjau tadi.
Ketua dari orang halus itu berkata lagi : Anak
manusia ini jangan dibiarkan bebas begitu saja.
Nanti ia lari diceritakannya perihal segala
perbuatan kita. Coba tutup ia dengan garantung
(gong) besar.” Tinjau lalu disekap di bawah sebuah
garantung. Ia menyadari bahwa dirinya diculik
mahluk halus. Untung saja papan lantai di bawah
garantung itu tidak rata. Kalau tidak ia bias mati
lemas kehabisan napas. Setelah Tinjau disekap,
mulailah mereka itu berunding mengatur
pembagian kerja pada esok hari yakni membuat
peralatan untuk melebur batu menjadi sanama
mantikei (besi sejati atau murni).
Orang tuanya heran mengapa Tinjau hari ini tidak
dating mengantar makanan seperti biasanya.
Merasa lapar keduanya terpaksa pulang ke rumah.
Ternyata Tinjau tidak ada di sana. Seluruh keluarga
dan orang sekampung turut mencari kesana
kemari. Tetapi semuanya sia-sia saja. Tinjau hilang
bagai ditelan bumi. Bermacam dugaan mereka
lontarkan.
“Apakah kau lihat segala perbuatan kami ?” Tanya
ketua mereka.
Memang Tinjau seorang anak yang cerdik, ia lalu
menyahut : “Ya. Saya lihat semua perbuatan kalian
dengan jelas.”
Ketua mahluk halus itu berkata : “Kalau begitu coba
tutup dia dengan rakung (bakul besar terbuat dari
kulit kayu).” Tinjau lalu ditutup oleh mereka dengan
rakung. “oh,” kata Tinjau, “jangan tutup aku dengan
rakung sebab dapat kulihat apa perbuatan kalian.”
“Kalau begitu coba dengan pangalau (sejenis bubu
penangkap ikan dari rotan dianyam jarang), agar ia
tak melihat pekerjaan kita,” kata ketua hantu itu.
Tinjau berteriak : “Ampun ! Janganlah kalian tuutp
aku dengan pengalau ini. Aku menjadi buta dan tuli
sama sekali.” Mahluk-mahluk halus itu tertawa
terbahak-bahak gembira, sebab Tinjau tak dapat
melihat segala perbuatan mereka. Alat yang mereka
buat itu adalah alat sebagaimana yang masih
dipergunakan pandai besi tradisional hingga kini di
daerah Kalimantan Tengah.
Menurut pendapat mereka untuk mempercepat
peleburan batu menjadi besi itu, sekeliling baknya
dipancangkan tiga buah patung dari tanah liat
dengan bentuk tertentu. Kepala berbentuk ikan,
ekornya halus berbentu kerbau. Kalau kepalanya
bunglon, ekornya harus berbentuk ikan serta bila
kepalanya babi ekornya mesti berbentuk buaya.
Dari percakapan mereka terdapat beberapa
persyaratan dalam pekerjaan itu antara lain tidak
boleh dilihat atau ditegur kaum wanita, beolok-
olok atau berbicara kotor dan bertengkar. Selain itu
hatus dekat dengan air dan ada dahan kayu yang
sedang tingginya. Dua syarat terakhir erat
kaitannya dengan teknis peralatan. Mengenai jenis
batuannya adalah batuan yang ada didalam tanah.
Tiga hari tiga malam lamanya Tinjau memperhatikan
kerja mereka itu mulai dari membuat peralatanya,
melebur batuan menjadi besi serta menempanya
menjadi senjata dan peralatan. Saking sibuknya
mereka bekerja, sampai lupa kepada Tinjau. Hingga
dapatlah ia melepaskan dirinya pulang ke rumah.
Gembiralah keluarganya serta seisi kampung
dengan kepulangan Tinjau. Mereka tercengang
mendengar ceritanya, apalagi menyangkut
pengolahan besi yang pada masa itu belum
diketahui oleh orang.
Beberapa tahun kemudian Tinjau mengajak
keluarganya mengerjakan sanaman mantikei seperti
dilihatnya di kampong mahluk halus dahulu.
Mereka mengerjakannya lebih baik sebab
peralatannya cukup sempurna dengan hasil yang
memuaskan pula.
Bekas pengolahan sanaman mantikei ini terlihat
disebelah kanan mudik sungai Mantikei, sungai
Manten danKaleka Nusa Kuluk Riam Habambang.
Sanaman Mantikei memiliki sifat yang lebih lunak
tapi tajam dan senjata yang dibuat dari bahan ini
mudah dibengkokkan. Batuan yang mengandung
sanaman mantikei hanya dijumpai di sungai
Mantikei, mencarinya dengan jalan digali dari
dalam tanah.
Karena terkenalnya besi ini, hingga sekarang daerah
sepanjang sungai samba dinamakan kecamatan
Sanaman Mantikei.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar